Rabu, 4 Oktober 2017

Semalam di Palembang (Tanah Leluhur Aku Datang)

Semalam di Palembang (Tanah Leluhur, Aku Datang)



Lima dasawarsa dulu
Saban malam mendengar atok tino melipurlara
tentang bumi Palembang berdaulat
Asal mula bersetia antara
Demang Lebar Daun dan Sang Sapurba,
Turunnya Sang Nila Utama 3 bersaudara
Bukit Siguntang laksana emas bercahaya
Wan Empuk Wan Malini dan Wan Sendari
Melahir titisan Melayu ke hari ini

Lagenda Meranjat,  ceritera penuh hikmat
Si Pahit Lidah, meski sekadar mitos rakyat
Usang harimau, sosok gagah asal hikayat
Lantas minda bawah sedar mendesak
Satu hari akan ku jejak
Tanah leluhur penuh riwayat

Lima dasawarsa usai
Meski dalam sibuk terbuai
Hidup duniawi yang langka santai
Namun tak pernah lupa untuk mencari asal denai
Sekian lama di minda bawah sedar tersadai

Tanggal 08 September 2017,
Mimpi bertamu ketanah leluhur menjadi nyata
Bumi Palembang menyambut tiba
Tika solat Jumaat, di Masjid Agung bertuah
Hujan turun melimbah
Seakan turut bersedih menangisi pulangnya ke rahmatullah
Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja
Kesultanan Palembang Darussalam yang dulu hilang
Angkara kolonial sumbang
Kini terbit semula selepas hampir seperlima millennia*
Meski sekadar simbol budaya, bukan sebagai sebuah kuasa

Saat menziarah makam Salatin Palembang Darussalam,
Bertemu ahlad diyar umarak dan ulamak besar
Disini rupanya makam ayah dan nenda
Habib Noh ulama tersohor dari Singapura
Kawah tekurep  wisma pusara
Innalililahi wa inna ilaihi rajiun
Semoga segala dosa para arwah diampun.

Menyusuri Musi dengan ketek
Melewati geretak AMPERA
Mengintai garis masa kehidupan
Antara kini dan masa silam
Bahtera dagang dan dermaga saksi kemajuan,
Namun..
Di sini masih ada warga mencari rezeki tradisi
Ada keluarga mencuci dan mandi
Ada anak berenang menongkah kali
Meraga terampil mengawang badan
Mengejar rezeki lontaran wisatawan
Persis setengah abad dulu aku pun demikian

Dari Jakabaring ke selatan
Menuju  Indralaya dan Kayuagung  daerah Ogan,
Sehingga tiba Desa Rawang Besar dan Dusun Meranjat Dua
Akhirnya bertemu jua
Waris titisan dari pohon yang sama
Bercerita, bercanda tentang sejarah keluarga
Sayang masanya singkat cuma
Tak sedar telah tiba masa
Mengucap pamit dan ketemu lagi entah bila.

Panorama sepanjang jalan
Rumah limas Melayu
Bumbung piramida tanpa tebar layar
Jajaran macet dan kasar
Bahu jalan liar terbiar
Menambah rencah sebuah safar...

Kerajinan Songket Palembang
Budaya Melayu warisan
Busana  indah  zaman berzaman
Makanan urang Palembang
Pempek dan tekwan
Sumber protin berasas ikan
Gabus@haruan jadi kemplang..
Mee celor ala laksam
Lemak nian menu pindang
Daging, ayam, ikan
Seluang goreng dan patin tempoyak, 
nostalgia santapan enak

Mercu tanda kota Palembang
Al Bayt Quran akbar simbol syiar
Monpera enam cagak berdiri tegar
Muzium Sriwijaya mengungkap rahsia
Tugu Belido bernuansa kencana
Benteng Kuto besak kota pertahanan
Bukit Siguntang Mahameru lagenda berzaman
Pulau Kemaro atribut cinta sejati
Paparan wajah Palembang dulu dan kini

Semalam di Palembang.  
Tak mungkin terlupakan 
Setiap detik dan ruang
Mengimbau sirah leluhur bertualang 
Berhijrah mengubah destini
Bumi Malaya yang serba jadi
Walau kini berpisah 
Jadi dua watan berbeda 
Namun tali saudara tak akan lerai
Selat Melaka bukan pencerai
Malah penyambung dua pantai
Selamat tinggal bumi Palembang
Semalam bersamamu mengubat rindu sekian waktu 
Moga ada lagi takdir kita  bertemu 
Bumi tumpah darah leluhur ku...



Kota Palembang
11 September 2017