Dialog Professor dengan Presiden
Mungkin ini adalah pertemuan sakral yang:
dialami oleh Prof. DR. H. Kadirun Yahya, Msc – seorang angkatan 1945, ahli
sufi, ahli fizik dan pernah menjadi
rektor Universiti Panca Budi, Medan - dengan Presiden RI pertama Ir.
Soekarno.
Beliau bersama rombongan ketika itu disambut
di lobi Istana Merdeka (sekitar bulan Julai 1965) bersama dengan Prof. Ir.
Brojonegoro (alm), Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie,
Pak Sucipto Besar, Kapolri, Duta Besar Belanda.
Presiden:
“Saya telah banyak melihat teman-teman
saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek kerana
banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya
selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus
dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum."
"Lantas saya ketemu dengan satu
Hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut : Rasulullah
berkata; Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan
seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan
memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul lewat dan berkata: Hai para
sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu
dunia dan akhirat. Ia ahli syurga”.
“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa
untuk mendapatkan syurga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun
untuk Allah baru dapat masuk syurga. Itupun barangkali. Sementara sekarang
seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing
pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli syurga. How do you explain it
Professor?” Tanya Bung Karno lanjut. Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak
langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.
Bung Karno adalah seorang jurutera dan
Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fizik.
Di atas kertas Prof. Kadirun mulai
menuliskan penjelasannya.
10/10 = 1
;
“Ya” kata
Presiden.
10/100 =
1/10 ; “Ya” kata Presiden.
10/1000`
= 1/100 ;
“Ya” kata
Presiden.
10/10.000
= 1/1000 ;
“Ya” kata
Presiden.
10 / ∞
(tak terhingga) = 0 ;
“Ya” kata
Presiden.
1000.000
… / ∞ = 0 ;
“Ya” kata
Presiden.
(Berapa
saja + Apa saja) /∞ = 0;
“Ya” kata
Presiden.
Dosa / ∞
= 0 ;
“Ya” kata
Presiden.
Nah…” lanjut
Prof,
1 x ∞ = ∞
;
“Ya” kata
Presiden
½ x ∞ = ∞
;
“Ya” kata
Presiden.
1 zarah x
∞ = ∞ ;
“Ya” kata
Presiden.
“… ini artinya, sang wanita, walaupun
hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan,
menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar."
"Mengikutsertakan yang Maha Besar
dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah
yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat
itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1
zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0.
Itulah dia jawabannya Presiden” jawab
Profesor.
Bung Karno diam sejenak . “hebat” katanya
kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.
Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan.
“Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?” katanya.
Profesor Kadirun Yahya pun lanjut
menjawabnya. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya
tak mungkin ada kontak dengan Tuhan."
"Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya
dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama,
maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu
juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher
kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati”, jelasnya.
“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya,
sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan ?” tanya Presiden
kemudian.
“Melalui isi dada Rasulullah” jawab Prof.
“Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya
: Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan
kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” (Abi Syuraihil Khuza’ayya.r.a),
lanjutnya.
Prof menyambung, “Begitu juga dalam
QS.Al-Hijr :29 – Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya
sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya”.
"Nur Illahi yang terbit dari Allah
sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi
itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas
kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT", kata Prof.
Prof melanjutkan, "Lihat saja
sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari.
Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas
yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’
seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!
Yang sampai pada matahari hanya cahayanya
kerana ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya.
Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur
sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanyapun akan hilang.
Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak
dapat dilihat”.
"Namun cahaya matahari, bukanlah
matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari
matahari sendiri (Huygens)", jelas Prof.
Prof menyimpulkan, "Dan Rasulullah
adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya.
Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada
dalam dada Rasulullah harus dihubungi."
“Bagaimana cara menghubungkannya,
sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?” tanya Presiden. “
Prof menjawab, "Memperbanyak selawat
atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat
frekuensi Allah SWT.
–Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa
shalawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang – (HR. Abu Daud dan
An-Nasay).
Jika diterjemahkan secara akademis
mungkin kurang lebih : “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu
mendapat frekuensi Rasul-Ku”.
Sontak Presiden berdiri. “You are
wonderful” teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor,
Presidenpun bermohon : “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan
tersenyum....dst"
Adaptasi daripada …https://www.facebook.com/muhammad.arifmajdi