Semalam di Palembang (Tanah Leluhur, Aku
Datang)
Lima
dasawarsa dulu
Saban
malam mendengar atok tino melipurlara
tentang
bumi Palembang berdaulat
Asal
mula bersetia antara
Demang
Lebar Daun dan Sang Sapurba,
Turunnya
Sang Nila Utama 3 bersaudara
Bukit
Siguntang laksana emas bercahaya
Wan
Empuk Wan Malini dan Wan Sendari
Melahir
titisan Melayu ke hari ini
Lagenda
Meranjat, ceritera penuh hikmat
Si
Pahit Lidah, meski sekadar mitos rakyat
Usang
harimau, sosok gagah asal hikayat
Lantas
minda bawah sedar mendesak
Satu
hari akan ku jejak
Tanah
leluhur penuh riwayat
Lima
dasawarsa usai
Meski
dalam sibuk terbuai
Hidup
duniawi yang langka santai
Namun
tak pernah lupa untuk mencari asal denai
Sekian
lama di minda bawah sedar tersadai
Tanggal
08 September 2017,
Mimpi
bertamu ketanah leluhur menjadi nyata
Bumi
Palembang menyambut tiba
Tika
solat Jumaat, di Masjid Agung bertuah
Hujan
turun melimbah
Seakan
turut bersedih menangisi pulangnya ke rahmatullah
Sultan
Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja
Kesultanan
Palembang Darussalam yang dulu hilang
Angkara
kolonial sumbang
Kini
terbit semula selepas hampir seperlima millennia*
Meski
sekadar simbol budaya, bukan sebagai sebuah kuasa
Saat
menziarah makam Salatin Palembang Darussalam,
Bertemu
ahlad diyar umarak dan ulamak besar
Disini
rupanya makam ayah dan nenda
Habib
Noh ulama tersohor dari Singapura
Kawah
tekurep wisma pusara
Innalililahi
wa inna ilaihi rajiun
Semoga
segala dosa para arwah diampun.
Menyusuri
Musi dengan ketek
Melewati
geretak AMPERA
Mengintai
garis masa kehidupan
Antara
kini dan masa silam
Bahtera
dagang dan dermaga saksi kemajuan,
Namun..
Di
sini masih ada warga mencari rezeki tradisi
Ada
keluarga mencuci dan mandi
Ada
anak berenang menongkah kali
Meraga
terampil mengawang badan
Mengejar
rezeki lontaran wisatawan
Persis
setengah abad dulu aku pun demikian
Dari
Jakabaring ke selatan
Menuju
Indralaya dan Kayuagung daerah Ogan,
Sehingga
tiba Desa Rawang Besar dan Dusun Meranjat Dua
Akhirnya
bertemu jua
Waris
titisan dari pohon yang sama
Bercerita,
bercanda tentang sejarah keluarga
Sayang
masanya singkat cuma
Tak
sedar telah tiba masa
Mengucap
pamit dan ketemu lagi entah bila.
Panorama
sepanjang jalan
Rumah
limas Melayu
Bumbung
piramida tanpa tebar layar
Jajaran
macet dan kasar
Bahu
jalan liar terbiar
Menambah
rencah sebuah safar...
Kerajinan
Songket Palembang
Budaya
Melayu warisan
Busana indah
zaman berzaman
Makanan
urang Palembang
Pempek
dan tekwan
Sumber
protin berasas ikan
Gabus@haruan
jadi kemplang..
Mee
celor ala laksam
Lemak
nian menu pindang
Daging,
ayam, ikan
Seluang
goreng dan patin tempoyak,
nostalgia
santapan enak
.
Mercu tanda kota Palembang
Al Bayt Quran akbar simbol syiar
Monpera enam cagak berdiri tegar
Muzium Sriwijaya mengungkap rahsia
Tugu Belido bernuansa kencana
Benteng Kuto besak kota pertahanan
Bukit Siguntang Mahameru lagenda berzaman
Pulau Kemaro atribut cinta sejati
Paparan wajah Palembang dulu dan kini
Semalam di Palembang.
Tak mungkin terlupakan
Setiap detik dan ruang
Mengimbau sirah leluhur bertualang
Berhijrah mengubah destini
Bumi Malaya yang serba jadi
Walau kini berpisah
Jadi dua watan berbeda
Namun tali saudara tak akan lerai
Selat Melaka bukan pencerai
Malah penyambung dua pantai
Selamat tinggal bumi Palembang
Semalam bersamamu mengubat rindu sekian waktu
Moga ada lagi takdir kita bertemu
Bumi tumpah darah leluhur ku...
Kota Palembang
11 September 2017












Tiada ulasan:
Catat Ulasan